Setiap melihat kegaduhan dan ketidakpatuhan di kelas, jantung ini
berdegup, mata melotot tanganpun mengepal. Bersiap mengeluarkan jurus
“mabok” dan marah. Berteriak, mencubit, menjewer bahkan menempeleng.
Sebuah siklus syetan yang banyak mendera sebagian guru, termasuk di
dalamnya penulis sendiri.
Tidak bisa dipungkiri jika kebiasaan menempatkan diri sebagai
penguasa ilmu di kelas menjadikan kita bersikap arogan. Tidak jarang
juga menjadi penguasa dan pengendali mutlak anak didik di kelas. Banyak
dari golongan kita (guru) yang masih meyakini jika kepatuhan dan diam
adalah kondisi ideal yang diidamkan terjadi di dalam kelas. Kondisi ini
memungkinkan transfer ilmu bisa berjalan lancar, tanpa hambatan dan
target kurikulum terpenuhi. Meski, dalam kenyataannya, dalam kondisi
tertekan semacam ini justru mendorong anak didik menghadapi kemunduran
belajar. Alih-alih membelajarkan anak didik, guru justru memenjarakan
mereka dalam ruang sempit nan membosankan.
Seorang guru seharusnya memiliki visi jauh ke depan, tidak
terbelenggu oleh ilmu masa lalunya. Anak didik yang dihadapinya lahir
dari peradaban kini, dalam banyak hal memiliki perbedaan dan cenderung
berbeda dari gurunya. Apa yang kita alami dulu, tidaklah semuanya sama
dengan kondisi saat ini. Semua berbeda dan melompat jauh melebihi
kemampuan kita memprediksinya.
Rhenald Khasali menuliskan bahwa adalah pertama kali dalam sejarah,
dunia kerja dan sekolah diisi empat generasi sekaligus, generasi
kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi
telepon pintar. Lebih lanjut Rhenald Khasali menjelaskan bahwa telah
terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas),
”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi
internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang
tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.Gurunya
berkutat dengan diktat tebal, anak didiknya menyelam dalam lautan
informasi di google, Wikipedia dan semacamnya.
Banyak orang menyebut mereka sebagai generasi alay (anak layangan).
Anak alay memiliki gaya sendiri baik dalam bertutur maupun bertingkah
laku. Cara pandang ini juga berbeda dengan sebagian besar gurunya. Anak
alay lebih multitasking, selfish,narsis, egois, dan ASRI ( generasi
asik sibuk sendiri dengan gadget).
Jurang pemisah antar generasi semacam inilah yang dalam banyak hal
menjadi pelecut ketidak harmonisan pola hubungan dan suasana di dalam
kelas. Bentakan dan kekerasan dijadikan sebagai terapi sesaat untuk
mengembalikan kondisi kelas. Gadget dan hp dijadikan alasan
ketidakseriusan anak didik dalam kelas. Padahal, semata-mata kitalah
yang kurang bisa menjembatani perbedaan preferensi dan gaya belajar anak
didik. Karenanya, guru kini dituntut lebih kreatif dalam membelajarkan
anak didiknya, harus kaya warna dan terobosan yang kadang menghentak dan
membuat terpanah anak didiknya. Konsentrasi anak didik yang ter upload
kemana-mana bisa disatukan kembali dengan pembelajaran yang menarik dan
kreatif. Internet telah memanjakan kita dengankeberlimpahan materi dan
bahan ajar. Cukup dengan satu kali jentik saja, ribuan informasi sudah
berada dipapan sorot LCD. Kita juga dituntut untuk banyak membaca,
dengan membaca jendela dunia semakin terbuka lebar, hingga kita bisa
mendapati keindahan kehidupan di luar sana. Kita sudah harus berlari
menjauh dari sekolah usang, yang tidak pernah upgrade dan update, yang
hanya bisa download tanpa pernah upload (menggugah) ide baru dalam
kehidupan siswa alay. Kita memang harus bergerak dan melompat jauh
melampaui mereka (anak didik). Bukankah begitu?
No comments:
Post a Comment