Sekarang adalah peradaban kamera, di mana setiap orang memiliki kamera (termasuk kamera ponsel) dan membentuk brand-nya. Terminologi ini muncul sebagai hasil kajian terhadap perilaku selebriti, baik di
panggung hiburan bisnis, maupun politik dan birokrasi dalam peradaban
kamera ini. Kajian terhadap sekitar 1.200 berita televisi (news, infotaiment, dan bisnis) ini dipadukan dengan respons publik di social media
dalam 5 tahun terakhir (2007-2013) dengan mengamati secara langsung
perilaku konsumen (pemirsa, pengonsumsi) dan tokoh-tokoh publik
(gubernur, politisi, birokrat, CEO, dan artis).
- Dari Cameragenic menjadi Auragenic. Timbul kesadaran bahwa penampilan fisik sudah bukan lagi hal yang menentukan pilihan. Resonansi sosial melalu “interactivity” antara netizen memunculkan apa yang disebut dalam buku ini sebagai “auragenic” itu
- Auragenic tak dapat “dibaca” kalau sebuah brand terdiam atau terkontrol of script yang tak bisa diajak berkomunikasi. Social TV meyakinkan khalayak berinteraksi dengan brand (old brand, struggle brand,ataupun future brand). Reaksi-reaksi sesaat memunculkan aura yang ditangkap melalui panca indera khalayak.
- Di depan kamera tak ada gesture dan content yang jujur kecuali candid/hidden camera. Bahasa camera Cinta Laura, keaktoran para politisi, atau penampilan fisik selebriti - semua tidak genuine. Sehingga timbul kerinduan terhadap authentics, autentisitas atau sesuatu yang genuine, jujur, prososial atau bahkan altuism.
- Jokowi – Ahok adalah simbol authentics yang dirindukan masyarakat karena memiliki auragenic yang kuat dan geneuine.
- Brand-brand tua dalam bisnis dengan cepat memanggil momentum. Coca cola dengan tall vending machine – 2 cokes for one adalah contoh penerapan Camera Branding.
- Camera Branding dapat digunakan untuk brand rejuvenite (peremajaan brand-brand tua) dengan menghidupkan aura brand, dan dapat mempercepat kelahiran brand-brand UKM tanpa biaya besar (seperti Dian Pelangi, Trijapreneur, dan lain-lain).
- Camera Banding melahirkan kekuatan bagi pejuang-pejuang sosial dalam karya-karya perubahan sosial (seperti pada ketokohan Haji Idin-Sanggrabuana dan Masril Koto - Komunitas Bank Tani).
- Camera Branding dapat membentuk perilaku “evil” dengan membandingkan tokoh-tokoh dan perilaku kontroversial (violence, mutilasi, korupsi, petualang-petualang wirausaha, dan seterusnya.)
- Tetapi Camera Branding dapat mentransformasi perilaku-perilaku buruk tersebut menjadi perilaku prososial dengan memunculkan (baca: mem-branding-kan heroism). Camera Branding Effect ini misalnya terjadi pada Een Sukaesih yang lumpuh seluruh badannya namun menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mengajar. Ia menerima Liputan 6 Award, lalu diterima presiden di Istana, dan menjadi pembicara di social media. (Banality of Heroism as counterpoint to the Banality of Evil. Ordinary people do heroic deeds).
- Camera Branding akan menjadi fenomena penting dalam marketing, social transformation, politik, pembentukan karakter dan bisnis di era baru Indonesia.
Televisi sungguh mempunyai efek camera branding yang kuat. Ditambah interaksi dari sosial media, televisi kini berevolusi menjadi sosial TV. Dan inilah saatnya Indonesia menyodorkan kehebatan orang-orangnya ketimbang para penjahat yang merampok uang rakyat, bermulut besar, dan yang hanya bisa mengumbar kebencian atau akademisi, sekalipun yang menyuarakan ketakutan.
Camera branding juga bisa dipakai pelaku-pelaku ekonomi untuk membentuk pasar, menciptakan gaya hidup baru yang lebih sehat. Dan efeknya kita rasakan.
No comments:
Post a Comment